Select Language

~ [DR]~

Bulan di Saturnus Akan Dihuni Alien

London: Salah satu bulan di Planet Saturnus diperkirakan akan ditinggali oleh makhluk luar angkasa atau alien. Titan, satelit planet terbesar dari 62 lainnya, memiliki karakteristik kualitas atmosfer yang diperlukan untuk mendukung kehidupan makhluk ekstra terestrial tersebut. Demikian laporan peneliti asal London, Inggris, Stephen Hawking, yang diwartakan situs Zeenews, baru-baru ini. Tempat yang dimaksud Hawking merupakan wilayah baru di bulan yang paling memungkinkan adanya kehidupan. Selain menemukan kondisi bulan di Saturnus, peneliti juga menemukan sebuah planet baru yang disebut Gliese 581g. Planet ini merupakan bagian dari konstelasi Libra dan memilki karakteristik paling mirip dengan bumi. Meski memiliki jarak 123 miliar mil dari bumi. Hawking memperkirakan keadaan tersebut dapat memungkinkan manusia untuk hidup di luar angkasa. Karena sudah sejak lama para ilmuwan mencari planet di luar tata surya yang dapat dihuni manusia. Hawking menyarankan agar manusia memikirkan untuk pindah ke luar angkasa pada abad mendatang. Sebab suatu saat bumi akan punah. Usai penemuan tersebut, para ilmuwan yang meneliti teleskop Kepler NASA, yang diluncurkan ke ruang angkasa pada 2009, telah menemukan lebih dari 1.000 kandidat planet untuk ditinggali manusia.(ULF)
READMORE
 

Titan Lebih Layak Huni Manusia Dibanding Mars

WASHINGTON, — Selama ini, banyak orang berpikir bahwa Mars adalah planet yang paling layak dihuni setelah Bumi. Bisa dipahami memang, sebab Mars adalah planet yang paling sering digembar-gemborkan memiliki potensi untuk mendukung kehidupan. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa ada tempat lain yang lebih mirip Bumi sehingga bisa dikatakan lebih layak huni. Dr Dirk Schulze-Makuch dari Washington State University dalam publikasinya di jurnal Astrobiologi menyatakan, dalam pemeringkatan bahwa Titan, bulan Planet Saturnus, adalah benda langit paling layak huni, mengalahkan planet merah, Mars. Dalam Indeks Daya Dukung Kehidupan Planet yang dikembangkan, seperti diuraikan BBC, Rabu (23/11/2011), Titan meraih skor tertinggi. Bumi memiliki indeks 1. Sementara Titan adalah 0,64, diikuti Mars (0,59), disusul Europa yang merupakan bulan Jupiter (0,47). Dua eksoplanet yang dinyatakan layak huni adalah Gliese 581 g (0,49) dan Gliese 581d (0,43). Indeks Daya Dukung Kehidupan Planet itu dikembangkan berdasarkan beberapa kriteria. Beberapa di antaranya adalah keberadaan batuan, air, energi, material organik, dan jarak planet dari bintangnya. Titan punya potensi layak huni sebab terbukti memiliki air dan energi. Penelitian planet layak huni belakangan ini maju pesat, salah satunya dengan sumbangan teleskop antariksa Kepler yang berhasil menemukan lebih dari 1.000 kandidat planet layak huni. Teleskop di masa depan diperkirakan bisa mendeteksi biomarker, seperti cahaya atau pigmen klorofil yang ada pada tumbuhan. Selain menyusun pemeringkatan planet layak huni, Schulze-Makuch juga menyusun Indeks Kemiripan Bumi untuk mengetahui planet dan bulan yang kondisinya paling mirip dengan Bumi. Hasilnya juga menyatakan bahwa Mars bukanlah yang pertama. Gliese 581g adalah planet yang paling mirip Bumi, dengan skor 0,89 sementara Gliese 581d punya skor 0,74. Mars sendiri punya skor 0,7 dan Merkurius 0,6. Indeks Kemiripan Bumi dikembangkan dengan melihat ukuran planet, densitas, dan jarak dari bintang induk. Gliese 581g dan Gliuese 581d adalah planet yang mengorbit bintang katai merah Gliese 581. Meski layak huni dan mirip Bumi, mencapai kedua planet itu terbilang sulit karena jaraknya yang sangat jauh. Gliese 581g berjarak 198 miliar kilometer.
READMORE
 

Kilatan Cahaya Ditemukan di Jupiter

Peneliti dari Universitas Tel Aviv di Israel menemukan bahwa kilatan cahaya atau petir juga bisa terjadi di planet lain, yakni Jupiter, Venus, dan Saturnus. Daria Dubrovin, peneliti dari universitas itu, menemukan bahwa kilatan cahaya di Planet Jupiter dan Saturnus bahkan 1.000 kali lebih kuat dibandingkan di Bumi. Dubrovin mengatakan, penemuan ini menarik bukan hanya karena petir akan memengaruhi teknologi yang digunakan dalam misi penjelajahan luar angkasa, melainkan juga karena petir bisa menjadi indikasi adanya kehidupan di luar angkasa. Seperti diketahui, petir menjadi generator munculnya pembentukan molekul organik yang menjadi cikal bakal kehidupan di Bumi. Kilatan cahaya di planet selain Bumi ini tidak ditemukan secara langsung. Dubrovin merancang eksperimen bersama supervisornya, Colin Price dari Departemen Geofisika dan Ilmu Keplanetan. Ia juga bekerja sama dengan Yoav Yair dari Universitas Terbuka Israel dan Ute Ebert serta Sander Nijdam dari Universitas Teknik Eindhoven di Belanda. Diuraikan di Daily Mail, Selasa (22/11/2011), Dubrovin dan rekannya merekayasa atmosfer Jupiter, Saturnus, dan Venus di dalam kontainer kecil. Rangkaian listrik dibuat untuk menghasilkan petir serupa dengan yang ada di alam. Cahaya petir ditangkap dengan kamera sensitif. Faktor ukuran, terang, radius, dan kecepatan dipakai untuk mengukur kekuatan petir. Hasil penelitian ini diuraikan dalam presentasi dalam acara Kongres Ilmu Keplanetan Eropa di Perancis pada Oktober 2011 lalu. Hasil ini bisa memberi petunjuk proses elektrik dan mekanik di Jupiter, Saturnus, dan Venus. Ke depan, observasi petir secara langsung mungkin bisa dilakukan sehingga semakin memberi petunjuk kemungkinan adanya kehidupan di planet itu.
READMORE
 

Jurang 20 Km di Asteroid Vesta

Wahana antariksa Dawn yang diluncurkan oleh NASA pada 27 September 2007 berhasil menguak misteri asteroid Vesta, salah satu asteroid terbesar di tata surya dengan diameter 515 km. Setelah berhasil menguak adanya gunung setinggi 24 kilometer di kutub selatan Vesta yang lalu dinobatkan sebagai gunung kedua tertinggi di tata surya, kini wahana tersebut menguak adanya jurang dalam di asteroid itu. Jurang ini begitu dalam sehingga jika diukur dari permukaan terendah ke tertinggi, kedalamannya adalah 2,5 kali tinggi Gunung Everest, atau sekitar 20 km. Analisis NASA menunjukkan bahwa jurang tersebut mungkin tercipta karena adanya tanah longsor. Karena gravitasi Vesta sangat kecil, hanya 2 persen dari Bumi, maka diduga longsor itu terjadi secara perlahan. Waktu terjadinya longsor yang mengakibatkan jurang di asteroid Vesta belum diketahui secara pasti. Namun, membandingkan dengan kawah-kawah di sekitar jurang, kemungkinan jurang ini sudah tua. Penemuan jurang ini adalah salah satu penemuan Dawn yang mengagumkan. Bulan lalu, wahana Dawn juga berhasil menemukan adanya gunung setinggi 24 kilometer, dan menjadi gunung tertinggi kedua di tata surya. Wahana Dawn sudah membuntuti Vesta selama 4 tahun. Tahun depan, misi Dawn mempelajari Vesta akan berakhir. Mulai tahun depan, wahana Dawn akan mempelajari Ceres.
READMORE
 

Virus Ini Bisa Memusnahkan Spesies Manusia

ROTTERDAM,http://achmadhairilsyah.blogspot.com/ — Inilah virus paling berbahaya. Virus ini bisa memusnahkan manusia, tetapi sekaligus juga dibuat oleh manusia. Tak ada nama spesifik bagi virus itu, atau setidaknya belum diberi nama secara resmi. Ahli virus dari Pusat Medis Erasmus di Rotterdam, Belanda, Ron Fouchier adalah orang yang menciptakan virus itu. Ia melakukannya dengan memutasikan materi genetik virus H5N1. Untuk menguji patogenitas virus, Fouchier memakai musang sebagai hewan percobaan karena memiliki saluran pernapasan serupa dengan manusia. "Ini adalah salah satu virus paling berbahaya yang bisa Anda buat," kata Fouschier seperti dikutip Daily Mail, Minggu (27/11/2011). Virus ini jauh lebih mudah menginfeksi manusia dan ditularkan ke manusia lain. Jika virus ini sampai "bocor" ke publik, potensi pandemik global akibat virus ini sangat tinggi. Boleh jadi, spesies manusia dibuat musnah karenanya. Lalu apa tujuannya membuat virus yang bisa mematikan manusia? Fouchier mengatakan, penelitian ini bagian dari usaha internasional memahami H5N1. Riset serupa lain juga dilakukan tim peneliti kerja sama Universitas Wisconsin di AS dan Universitas Tokyo di Jepang. Hasil penelitian Fouchier dan tim peneliti dari Wisconsin dan Tokyo kini tengah diulas oleh Badan Penasihat Sains Nasional untuk Keamanan Biologis Amerika Serikat (NSABB). Beberapa kalangan menolak publikasi hasil penelitian tersebut sebab dikhawatirkan akan disalahgunakan. Hasil penelitian bisa berdampak positif untuk kesehatan masyarakat, tetapi juga bisa dimanfaatkan sebagai senjata biologis. "Kami tak mau memberikan road map bagaimana cara membuat virus buruk menjadi semakin buruk kepada para penjahat," kata Michael Osterholm, anggota NSABB yang juga merupakan pakar flu dan pertahanan biologis dari Pusat Penelitian dan Kebijakan Penyakit Infeksi di Universitas Minnesota, AS.
READMORE
 

Date A Live

Date A Live
Ratatoskr

Eureka seveN

Eureka seveN

Pages - Menu

5

~

diooda